BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan
dengan persoalan yang apabila kita telusuri ternyata merupakan masalah
matematika. Dengan mengubahnya kedalam bahasa atau persamaan matematika maka
persoalan tersebut lebih mudah diselesaikan. Tetapi terkadang suatu persoalan
sering kali memuat lebih dari dua persamaan dan beberapa variabel, sehingga
kita mengalami kesulitan untuk mencari hubungan antara variabel-variabelnya.
Bahkan dinegara maju sering ditemukan model ekonomi yang harus memecahkan suatu
sistem persamaan dengan puluhan atau ratusan variabel yang nilainya harus
ditentukan.
Matriks, pada dasarnya merupakan suatu alat atau
instrumen yang cukup ampuh untuk memecahkan persoalan tersebut. Dengan
menggunakan matriks memudahkan kita untuk membuat analisa-analisa yang mencakup
hubungan variabel-variabel dari suatu persoalan. Pada awalnya matrik ditemukan
dalam sebuah studi yang dilakukan oleh seorang ilmuan yang berasal dari Inggris
yang bernama Arthur Cayley (1821-1895) yang mana studi yang dilakukan untuk
meneliti persamaan linier dan transformasi linear, awal dari semua ini matrik
dianggap sebagai sebuah permainan karena matrik dapat diaplikasikan, sedangkan
pada tahun 1925 matrik digunakan sebagai kuantum dan pada perkembangannya
matrik digunakan dalam berbagai bidang.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian di atas kami menemukan permasalahan sebagai berikut :
1. Apa
pengertian atau definisi matriks serta bagaimana pengertian determinan dan
invers matriks?
2. Bagaimana
operasi penyelesaian matriks dan permasalahan pada matriks?
C. Tujuan Pembahasan
Berdasarkan uraian di atas kami menemukan permasalahan sebagai berikut :
1. Menjelaskan
tentang pengertian dan definisi matriks, dan pengertian determinan dan invers
matriks.
2. Menjelaskan
tentang jenis-jenis operasi matriks dan
penyelesaian masalah pada matriks.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
MATRIKS
- Definisi Matriks
Matriks
adalah kumpulan bilangan-bilangan yang disusun secara khusus dalam bentuk baris
dan kolom sehingga membentuk persegi panjang dan bujur sangkar dimana panjang
dan lebarnya ditunjukkan oleh kolom dan baris yang ditulis diantara dua tanda
kurung, yaitu ( ) dan [ ].
- Simbol Matriks
Pada
umumnya simbol matriks berbentuk | |, [ ], ( ). Secara umum sebuah matriks
dapat ditulis :
Amxn
= 

Matriks juga dapat
dinyatakan sebagai: Amxn = [aij]mxn
Dimana: aij = elemen atau unsur
matriks
i = 1,2,3,...m, indeks baris
j = 1,2,3,...n, indeks kolom
- Bentuk-Bentuk Matriks
1. Ordo
2 x 1 mengandung pengertian 2 baris dan 1 kolom.
Misalnya: 

2. Ordo
2 x 2 mengandung pengertian 2 baris dan 2 kolom.
Misalnya: 
3. Ordo
3 x 3 mengandung pengertian 3 baris dan 3 kolom.
Misalnya: 

B.
JENIS-JENIS
MATRIKS
Jenis
matriks dapat dibedakan berdasarkan susunan elemen matriks dan berdasarkan
sifat operasi dari matriksnya.
a.
Berdasarkan Susuna
Elemen Matriks
Berdasarkan
susunan elemen matriks, ada beberapa jenis matriks yaitu:
1.
Matriks kuadrat/bujur
sangkar (square matrix) adalah
matriks dimana jumlah baris (m) sama dengan jumlah kolom (n) atau m = n.
Contoh: A
=
, B = 

2.
Matriks nol (null matrix) adalah matriks dimana semua
elemenya mempunyai nilai nol (0).
Contoh: A
=
, B =


3.
Matriks diagonal (diagonal matrix) adalah matriks dimana
semua elemen diluar diagonal utamanya
adalah nol (0) dan minimal ada satu elemen pada diagonal utamanya bukan nol.
Contoh: A
=
, B =


4.
Matriks
kesatuan/identitas (unit matrix, identity
matriix) adalah matriks dimana semua elemen pada diagonal utamanya bernilai
satu dan elemen diluar diagonal utama bernilai nol.
Contoh:
A =
, B =


5.
Matriks skalar (scalar matrix) adalah matriks diagonal
dimana elemen pada diagonal utamanya bernilai sama tetapi bukan satu atau nol.
Contoh: A
=
, B =


6.
Matriks tridiaonal (tridiagonal matrix) adalah matriks
diagonal dimana elemen sebelah kiri dan kanan diagonal utamanya bernilai tidak
sama dengan nol (0).
Contoh: A
= 

7.
Matriks segitiga bawah
(lower triangular matrix, L) adalah
matriks diagonal mana elemen disebelah kiri (bawah) diagonal utama ada yang
bernilai tidak sama dengan nol.
Contoh: L
=
, L = 

8.
Matriks segitiga atas (upper triangular matrix, U) adalah
matriks diagonal dimana elemen sebelah kanan (atas) diagonal utama ada yang
bernilai tidak sama dengan nol.
Contoh: U
=
, U =


9.
Matriks simetris (symmertic matrix) adalah matriks bujur
sangkar dimana elemen ke aij sama
dengan ke aij atau (aij= aij) untuk semua i dan j.
Contoh: U
=
, berlaku sifat AT
= A
, berlaku sifat AT
= A
10.
Matriks miring (skew matrix) adalah matriks bujur
sangkar dimana elemen ke aij
sama dengan –aji atau (aij = -aji) untuk semua i dan j tetapi elemen diagonal utama
tidak semuanya bernilai nol.
Contoh: M
=
, berlaku sifat MT
= -M
, berlaku sifat MT
= -M
11.
Matriks miring simetris
(skew-symmetric matrix) adalah
matriks bujur sangkar dimana elemen ke aij sama dengan –aij atau (aij = -aji) untuk semua i dan
dan semua elemen diagonal utama bernilai nol.
Contoh: M
=
, berlaku sifat MT
= -M
, berlaku sifat MT
= -M
b.
Berdasarkan Sifat
Operasi Matriks
Berdasarkan
sifat operasi matriks, ada beberapa jenis matriks yaitu:
1.
Matriks singular (singular matrix) adalah matriks yang
determinannya bernilai nol.
Contoh: A
=
, B =


2.
Matriks non singular (non singular matrix) adalah matriks yang
determinannya bernilai tidak sama dengan nol.
Contoh: A
=
, B =


3.
Matriks hermit (hermit matrix) adalah matriks bujur
sangkar yang transpose conjugate-nya sama dengan matriks itu sendiri atau
= M dimana
= conjugate kompleks matriks M.
Contoh: M
=
,
= 
, 
= M
4.
Matriks hermit miring (skew hermit matrix) adalah matriks bujur
sangkar yang transpose conjugate-nya sama dengan negatif matriks itu sendiri
atau
= -M.
Contoh: M =
,
= 
, 
= -M
5.
Matriks uniter (uniter matrix) adalah matriks bujur
sangkar yang transposenya sama dengan invers conjugate-nya atau MT
=
atau
=
= I.
Contoh: M
=
,
=
dan MT=
= 
=
=
=
6.
Matriks ortogonal (orthogonal matrix) adalah matriks bujur
sangkar yang transposenya sama dengan inversnya atau MT = M-1
atau MTM=I.
Contoh: M
=
, dan MT
=
, dan MT
=
MTM
=
=
= I

=
7.
Matriks normal (normal matrix) adalah matriks bujur
sangkar yang mempunyai sifat: M
=
.
Contoh: M
=
, dan
=
M
=
M ↔

=
= 
=
2
= 2
8.
Matriks involunter (involunter matriks) adalah matriks yang
jika dikalikan dengan matriks itu sendiri akan menghasilakan matriks identitas
atau M2 = I.
Contoh: M
= 

M2= M.M = 
=
= I

=
9.
Matriks idempotent (idempotent matrix) adalah matriks yang
jika dikalikan dengan matriks itu sendiri akan menghasilkan matriks asal M2= M.
Contoh: M = 

M2=
=
= M
=
= M
10.
Matriks nilpotent (nilpotent matrix) adalah matriks yang
jika dikalikan dengan matriks itu sendiri akan menghasilkan matriks nol atau MP = 0, untuk p = bilangan bulat positif > 2.
Contoh: M = 





11.
Matriks elementer (elementary matrix) adalah matriks hasil
transformasi elementer terhadap matriks kesatuan (I).
Contoh: I = 

Transformasi elementer I12,I3(k),dan
I23(k):
I12 = 

I3(k)
= 

I23(k)
= 

Keterangan:
I12=b12
(baris 1 ditukar dengan baris 2)
I3(k)=b3(k)=k
xb3 (baris 3 dikali dengan k)
I23(k)=b2+k
x b3 (baris 2 + baris 3 dikali k)
C.
ALJABAR
MATRIKS
a.
Penjumlahan dan
Pengurangan Matriks
Penjumlahan
dan pengurangan matriks harus memperhatikan hal-hal berikut:
·
Matriks dapat
dijumlahkan atau dikurangkan jika mempunyai ukuran atau dimensi yang sama.
·
Matriks yang ukurannya
berbeda tidak dapat dijumlahkan atau dikurangkan.
·
Matriks hasil
penjumlahan atau pengurangan mempunyai
ukuran yang sama dengan matriks asal.
·
Penjumlahan matriks
adalah menambahkan elemen pada posisi yang sama pada matriks.
·
Pengurangan (selisih)
matriks adalah mengurangi elemen pada posisi yang sama pada matriks.
Jumlah
dua matriks A = (aij) dan B = (bij) yang
berukuran m x n:
A
+ B = (aij + bij)mxn untuk i
= 1,2, ..., m;
j= 1,2,
..., n;
selisih
dua matriks A = (aij) dan B = (bij) yang
berukuran m x n:
A
- B = (aij - bij)mxn untuk i
= 1,2, ..., m;
j= 1,2,
..., n;
Sifat
penjumlahan dan pengurangan matriks:
·
A + B = B + A Sifat komutatif
·
A + B + C = C + B + A
·
( A + B ) + C = A + ( B
+ C ) Sifat Asosiatif
·
A + 0 = A
·
A – 0 = A
Contoh:
Tentukan
penjumlahandan selisih dari matriks-matriks berikut:
A =
, B = 
, B = 
Penyelesaian:
A + B =
= 
= 
A - B =
= 
= 
b.
Perkalian Matriks
1.
Perkalian Skalar dengan
Matriks
Jika k adalah bilangan real (skalar), maka
perkalian skalar dengan matriks A=[aij]mxn :
kA =
= (kaij)mxn
= (kaij)mxn
atau
Ak =
= (aijk)mxn
= (aijk)mxn
Sifat perkalian skalar dengan matriks:
Jika A,B,C adalah matriks mxn, k1
dan k2 adalah skalar maka:
·
k1 = Ak1
·
(k1k2)A = k1(k2A)
·
1A = A
·
(-1) A= -A
·
K1(A+B)
= k1A + k1B
·
(k1+k2)A = k1A + k2A
Contoh:
1.
Jika A =
dan k = 2 tentukan kA
dan Ak
dan k = 2 tentukan kA
dan Ak
Penyelesaian:
kA = 2
= 
= 
Ak
=
2= 
2= 
2.
Jika diketahui matriks A dan B berikut,
A =
, B = 
Tentukan
2A dan 2A-B
Penyelesaian:
2A = 2
= 
2A-B = 2
-
= 
2. Perkalian Matriks dengan Matriks
Jika
A matriks ukuran m x p dan B matriks ukuran p x n, maka perkalian
matriks A dan B :
AB = 



atau
AB = 

untuk
semua i = 1,2,..., m ; j = 1,2,...,p.
Perkalian
matriks yaitu mengalikan elemen baris ke-i matriks A dengan elemen kolom ke-j matriks B dan menjumlahkannya. Dimensi hasil perkalian matriks:
sifat
perkalian matriks dengan matriks:
·
A(BC)
= A (BC) Asosiatif
·
A(B+C)
= AB + AC Distributif
kiri
·
(B
+ C ) A = BA + C Distributif kanan
·
r(AB)
= (rA)B r
= skalar
·
ImA
= A = AIn Asosiatif
Contoh:
1. Jika
diketahui A =
dan B =
tentukan AB
Penyelesaian:
AB =
x 
= 
= 
c. Perpangkatan
Matriks
Jika
n adalah sebuah bilangan bulat positif dan A suatu matriks persegi, maka An
= A x A x A x A ... x A (sebanyak n faktor) atau dapat juga dituliskan An
= A x An-1 atau An = An-1 x A.
Contoh:
Diketahui
matriks A =
, tentukan:
a. A2
b. A3 c. 2A4
Penyelesaian:
a. A2
= 
=
b. A3
= 
=
c. 2A4
= 2A x A3 = 2 

= 2
= 
d. Transpose
matriks
Transpose
dari matriks A berordo m x n adalah matriks yang diperoleh dari matriks A
dengan menukar elemen baris menjadi elemen kolom atau sebaliknya, sehingga
beordo n x m. Notasi transpose Am x n adalah
.
Contoh:
Tentukan
transpose dari matriks berikut:
A = 
, B =

, B =
Penyelesaian:
Transpose dari
matriks tersebut adalah sebagai berikut:
AT =
BT
= 
BT
=
e.
Determinan Matriks
1.
Determinan matriks ordo
2 x 2
Misalkan
A =
adalah matriks yang
berordo 2 x 2 dengan elemen a dan d terletak pada diagonal utama, sedangkan b
dan c terletak pada diagonal utama kedua. Determinan matriks A dinotasikan “det
A” atau
adalah suatu bilangan
yang diperoleh dengan mengurangi hasil kali elemen-elemen pada diagonal utama
pertama dengan hasil kali pada diagonal utama kedua.
Dengan
demikian dapat diperoleh rumus det A sebagai berikut:
det
A =
= ad –bc
Contoh:
Tentukanlah
determinan metriks matriks berikut:
A
=
b.
Penyelesaian:
a.
det A =
= (5) (3) - (2) (4) = 7
b.
det B =
= (-4) (2) – (-1) (3) = -5
2.
determinan matriks ordo
3 x 3
jika
A =
adalah matriks persegi
berordo 3 x 3, determinan A dinyatakan dengan det A =
.
adalah matriks persegi
berordo 3 x 3, determinan A dinyatakan dengan det A =
.
Ada
dua cara yang dapat digunakan untuk menentukan matriks berordo 3 x 3, yaitu
aturan sarrus dan metode minor-kofaktor.
Ø aturan sarrus
Untuk menentukan determinan
dengan aturan sarrus, perhatikan alur berikut. Misalnya kita akan menghitung
determinan matriks A3x3, gambaran perhitungannya adalah sebagai
berikut:






= 
Ø metode minor-kofaktor

Akan
diperoleh M21 =
. M21 adalah minor dari elemen matriks A baris
ke-2 kolom ke-1 atau M21 = a21.
. M21 adalah minor dari elemen matriks A baris
ke-2 kolom ke-1 atau M21 = a21.
Kofaktor
elemen aij dinotasikan dengan Kij adalah hasil kali (-1)i+j
dengan minor elemen tersebut. Dengan demikian kofaktor suatu matriks dirumuskan
dengan:
Kij=
(-1)i+j Mij
Dari matriks A
diatas, kita peroleh misalnya kofaktor a21 dan a13 berturut-turut
adalah :
K21=(-1)2+1M21=
-M21
K13=(-1)1+3M13=
-M13
Kofaktor dari matriks A3x3 adalah
(kof) A = 

Nilai
dari suatu determinan merupakan hasil penjumlahan dari perkalian suatu
elemen-elemen suatu baris (atau kolom) dengan kofaktornya. Untuk menghitung
determinan, kita dapat memeilih terlebih dahulu sebuah baris (atau kolom)
kemudian kita gunakan aturan diatas. Perhatikan cara menentukan determinan
berikut:
Misalkan diketahui matriks
A = 

Determinan matriks A dapat dihitung dengan
cara berikut:
Kita pilih baris pertama sehingga:
det A = 
= 
= 

= 
= 
= 
Tampak bahwa det A matriks ordo 3 x 3
yang diselesaikan dengan cara minor kofaktor hasilnya sama dengan det A dengan
menggunakan cara sarrus.
Contoh:
Tentukan
determinan dari matriks A =
dengan aturan sarrus dan minor kofaktor!
dengan aturan sarrus dan minor kofaktor!
Penyelesaian:
Cara
1 (aturan sarrus):
det
A = 

=
(1 x 1 x 2) + (2 x 4 x 3) + (3 x 2 x 1) – (3 x 1 x 3) – (1 x 4 x1) – (2 x 2 x
2)
=
2 + 24 + 6 – 9 – 4 – 8
=
11
Cara
2 (minor-kofaktor):
det
A = 1

= 1 (2 – 4) – 2 (4 – 12) + 3 (2 – 3)
= 1 (-2) – 2(-8) + 3(-1)
= -2 + 16 – 3
= 11
3. Sifat-Sifat
Determinan Matriks
Berikut
beberapa sifat determinan matriks:
1.
jika semua elemen dari
salah satu baris/kolom sama dengan nol maka determinan matriks itu nol.
Misal:
A =
→
, B = 

2.
jika semua elemen dari
salah satu baris/kolom sama dengan baris/kolom elemen-elemen lain maka
determinan matriks itu nol.
Misal:
B =
(karena elemen-elemen baris ke-1 dan ke-3 sama).
(karena elemen-elemen baris ke-1 dan ke-3 sama).
3.
Jika elemen-elemen
salah satu kolom/baris merupakan kelipatan dari elemen-elemen baris/kolom lain
maka determinan matriks itu sama dengan nol.
Misal:
A =
(karena elemen-elemen baris ke-3 merupakan kelipatan
elemen-elemen baris ke-1)
(karena elemen-elemen baris ke-3 merupakan kelipatan
elemen-elemen baris ke-1)
4.

5.
, untuk AT adalah transpose dari matriks A.
6.
, untuk A-1 adalah invers dari matriks A
7.
untuk A ordo n x n dan k suatu konstanta.
f. Invers Matriks
Jika
A adalah matriks ukuran n x n dan jika ada matriks b ukuran n x n sedemikian
rupa sehingga:
AB = BA = I
Dimana
I adalah matriks identitas ukuran n x n, maka matriks A disebut non singular
atau invertibel dan matriks A merupakan invers dari B atau B merupakan invers
dari A.
Jika
matriks A tidak mempunyai invers, maka A disebut matriks singular atau non
invertibel.
Notasi matriks
invers dari A: A-1.
1. Menentukan
invers matriks berordo 2 x 2
Misalkan
diketahui matriks A =
, dengan ad-bc
tidak sama dengan nol. Suatu matriks lain, misalnya B dikatakan sebagai invers
matriks A jika AB = I. Matriks invers dari A ditulis A-1 dengan
demikian berlaku AA-1=A-1A.
Matriks
A mempunyai invers jika A adalah matriks nonsingular yaitu det A ≠ 0,
sebaliknya jika det A = 0 maka matriks singular maka matriks ini tidak memiliki
invers.
Jadi jika A
=
, maka inversnya adalah:
A-1
=
untuk ad-bc ≠ 0
Contoh:
Tentukan
invers matriks matriks berikut:
a.
A = 
b.
B = 
Penyelesaian:
a.
A-1 =

=

= 
b.
B-1 =

=

= 

2. Menentukan
invers matriks berordo 3 x 3
Invers
matriks berordo 3 x 3 dapat dicari dengan beberapa cara. Pada pembahasan kali
ini kami akan menggunakan cara adjoin.
Invers matriks persegi berordo 3 x 3
dirumuskan sebagai berikut:
Penentuan
adj A:

Contoh:
Diketahui
matriks A =
tentukan invers matriks A dengan menggunakan perhitungan
menurut baris pertama.
tentukan invers matriks A dengan menggunakan perhitungan
menurut baris pertama.
Penyelesaian:
Terlebih dahulu
kita hitug determinan A
= 1(9 – 8) – 2(6 – 4) + 1(4 – 3)
=1(1) – 2(2) + 1(1)
=1 – 4 + 1
= -2
Dengan
menggunakan rumus adjoin diperoleh:

Jadi A-1 dapat
dihitung sebagai berikut:
=

=

g.
Penyelesaian Persamaan Linear
dengan Matriks
Matriks
dapat digunakan untuk mempermudah dalam menentukan penyelesaian sistem
persamaan linear. Pada pembahasan kali ini, kita akan menggunakannya untuk
menyelesaikan sestem persamaan linear dua variabel dan tiga variabael.
1.
Sistem Persamaan Linear
Dua Variabel
Bentuk
umum sistem persamaan linear dua variabel:
ax
+ by = p .......................................................(1)
cx
+ dy = q .......................................................(2)
persamaan
(1) dan (2) deatas dapat kita susun kedalam bentuk matriks dibawah ini:
Tujuan
penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel adalah menentukan nilaix dan
y yang memenuhi sistem persamaan itu. Oleh karena itu, berdasarnya sistem
penyelesaian matriks bentuk AX = B dapat dirumuskan sebagai berikut:
Asalkan
ad – bc 
Contoh:
Tentukan
penyelesaian sistem persamaan linear berikut dengan menggunakan matriks.
2x
+ y =
x
+ 3y = 7
penyelesaian:
dari
persamaan diatas dapat kita susun menjadi matriks sebagai berikut.
Dengan
menggunakan rumus penjelasan matriks diatas, diperoleh sebagai berikut.
=
= 
Jadi,diperoleh
penyelesain x = 1 dan y = 2
2.
Sistem Persamaan Linear
Tiga Variabel
Untuk
menyelesaikan sistem persamaan linear tiga variabel dapat dilakukan dengan
beberapa cara misalnya eliminasi, substitusi dan gabungan antara eliminasi dan
substitusi.
Misalkan
diberikan sistem persaman linear tiga variabel sebagai berikut.
Sistem
persamaan linear diatas dapat disusun menjadi matriks sebagai berikut:

Misalkan
A =
, X =
dan B = 
, X =
Bentuk
diatas dapat kita tuliskan sebagai AX = B
Penyelesaian
sistem persamaan AX= B adalah X = A-1B. Dalam hal ini
A-1=
, oleh karena itu diperoleh:
X
=
B =
B
Contoh:
Tentukanlah
determinanmatriks berikut:

Penyelesaian:

B = (1x3x3) + (2x4x1) + (3 x1x4)
– (3x3x1) – (1x4x4) – (2x1x3)
D.
NILAI
EIGEN DAN VEKTOR EIGEN
Sebuah matriks bujur sangkar dengan
orde n x n misalkan A, dan sebuah vektor kolom X dihubungkan
dengan sebuah persamaan :
AX = λX
dimana λ adalah suatu skalar dan X
adalah vektor yang tidak nol.
Skalar λ dinamakan nilai
Eigen dari matriks A. Nilai eigen adalah nilai karakteristik dari
suatu matriks bujur sangkar. Vektor X adalah suatu vektor yang
tidak nol untuk nilai eigen yang sesuai dan disebut dengan vektor eigen.
Jadi vektor X mempunyai nilai tertentu untuk nilai eigen tertentu.
Perhitungan
Nilai Eigen
Kita tinjau perkalian matriks A
dan X dalam persamaan sebelumnya. Apabila kedua sisi dalam
persamaan tersebut dikalikan dengan matriks identitas didapatkan :
IAX = IλX
AX = λIX
[λI - A]X = 0
Persamaan terakhir terpenuhi jika dan hanya jika
det[λI - A] = 0
Dengan menyelesaikan persamaan diatas kita bisa
mendapatkan nilai eigen λ.
Misalkan diberikan sebuah matriks
A = 
Dari persamaan det[λI - A] = 0 kita dapatkan :
det 

Selanjutnya dengan menggunakan rumus abc didapatkan
nilai eigen :
Contoh:
1. tentukan
nilai eigen dari matriks berikut ini:
Penyelesaian:
Nilai eigen
ditentukan dengan persamaan:
det
= 0
Jadi
penyelesaian dari persamaan ini adalah
=1 dan
=2
2. Tentukanlah nilai eigen dari matriks berikut ini:

Penyelesaian:
Persamaan karakteristik dari matriks A adalah:
= 0
Untuk mencari nilai
yang sesuai terlebih1 dahulu hitung determinan dari (A-
) dengan metode kofaktor:
det A = (
sehingga didapat ketiga nilai eigen adalah 
E.
PENERAPAN MATRIKS DALAM
FISIKA
a. Analisis Vektor dengan Pendekatan Matriks
Vektor adalah istilah yang sangat
akrab bagi orang – orang yang berkecimpung di bidang fisika. Tentu saja karena
vektor adalah istilah penting yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki oleh
suatu objek. Vektor atau besaran vektor didefinisikan sebagai besaran yang
mempunyai besar atau nilai dan arah, sedangkan definisi dari besaran adalah
sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dalam satuan. Akan sangat panjang jika
kita membahas definisi besaran di sini, maka mari kita kembali menengok
pembahasan vektor kita. Catatan ini akan lebih banyak membahas operasi
matematika pada vektor, jika pembaca ingin mengetahui lebih banyak tentang
definisi vektor dan aturan penulisan vektor, pembaca dapat membaca referensi –
referensi lain yang membahas tentang vektor.
Vektor dapat direpresentasikan ke
dalam bentuk vektor satuan. Vektor satuan adalah vektor pada arah sumbu x, y,
atau z pada koordinat kartesian yang memiliki besar satu satuan. Misalnya suatu
vektor dua dimensi pada koordinat kartesian F = 16 N pada arah 60
derajat dapat direpresentasikan dalam vektor satuannya sebagai F = (8i
+ 13.86j) N, dengan huruf i menunjukkan vektor satuan dari F
yang bernilai 8 N pada arah sumbu x dan huruf j menunjukkan vektor
satuan dari F yang bernilai 13.86 N pada arah sumbu y. Untuk vektor tiga
dimensi kita dapat menambahkan vektor satuan dengan lambang k untuk
merepresentasikan vektor pada arah sumbu z. Secara umum kita dapat menuliskan
suatu vektor F = Fxi + Fyj + Fzk, dengan Fx, Fy,
dan Fz masing – masing adalah nilai komponen vektor F pada arah sumbu x,
y, dan z.
Berawal dari penulisan besaran
vektor dalam bentuk vektor satuan, kita akan menemukan bahwa melalui suatu
persamaan bentuk, maka kita dapat mengaplikasikan operasi matriks dalam
menganalisis nilai dari operasi matematika untuk satu atau lebih besaran
vektor. Ada beberapa operasi matematika pada besaran vektor, misalnya
penjumlahan, pengurangan, perkalian titik (dot product), dan perkalian silang
(cross product). Ada pula istilah operator di dalam analisis vektor,
Anda akan memahaminya lebih dalam ketika belajar tentang Kalkulus Vektor. Kali
ini kita akan membahas operasi – operasi matematika dasar pada vektor melalui
pendekatan bentuk matriks. Melalui pendekatan ini diharapkan akan mempermudah
proses analisis besaran vektor dan memberikan pemahaman yang lebih dalam
tentang besaran vektor.
b.
Operasi
Matematika pada Vektor dengan Pendekatan Matriks
Besaran vektor dapat dijumlahkan
satu sama lain, misal kita mempunyai vektor A = 5i + 5j –
5k dan vektor B = 4i-3j+2k. Maka kita dapat
mengetahui hasil penjumlahan vektor A + B = R dengan
menjumlahkan nilai masing – masing komponen vektor satuannya yang bersesuaian.
Melalui konsep tersebut kita bisa menentukan nilai R = (5+4)i +
(5+(-3))j + ((-5)+2)k, sehingga R = 9i + 2j
– 3k. Sekarang kita menggunakan pendekatan matriks untuk operasi
penjumlahan tersebut, bayangkan kita memiliki sebuah matriks 1×3, dengan masing
– masing kolom terisi nilai vektor pada sumbu x, y, dan z. Misalnya, F =
[Fx Fy Fz], dengan Fx adalah nilai vektor F pada sumbu x, Fy
adalah nilai vektor F pada sumbu y, dan Fz adalah nilai vektor F pada sumbu z.
Kita akan mendapatkan vektor A = [5 5 -5] dan vektor B = [4 -3 2],
dari bentuk matriks tersebut kita dapat memperoleh hasil penjumlahan kedua
vektor tersebut, R, dengan cara menjumlahkan vektor (atau sekarang bisa
kita sebut matriks) A dan B melalui operasi penjumlahan pada
matriks biasa. Kita akan memperoleh R = [9 2 -3], bandingkan dengan
hasil yang kita peroleh sebelumnya, bersesuaian bukan?
Untuk operasi pengurangan vektor,
mari kita tinjau kembali konsep dari pengurangan suatu vektor dengan vektor
yang lain. Kita akan mendapatkan bahwa mengurangkan suatu vektor dengan vektor
yang lain sama dengan menjumlahkan suatu vektor dengan lawan vektor yang
lain. Dalam hal ini, yang dimaksud lawan adalah nilai negatif dari vektor yang
dimaksud, contohnya -1 adalah lawan dari 1. Dari sini kita dapat menggunakan
konsep penjumlahan vektor dengan catatan mengubah nilai vektor pengurangnya
menjadi nilai lawannya. Misalkan kita akan mengurangkan vektor A dengan
vektor B pada contoh sebelumnya. Maka kita akan memperoleh R = A
+ (-B), dengan nilai -B = [-4 3 -2], sehingga R = [1 8
-7].
Perkalian pada vektor ada dua macam,
yaitu perkalian titik atau perkalian skalar (dot product) dan perkalian silang
(cross product). Masing – masing bentuk perkalian mempunyai sifat – sifat
tersendiri, sehingga saya sarankan pembaca lebih mendalami konsep perkalian
vektor dengan membaca buku – buku referensi yang ada.
Perkalian titik atau perkalian
skalar (dot product) merupakan perkalian antara dua buah besaran vektor yang
menghasilkan suatu nilai skalar. Aplikasi perkalian titik contohnya pada
perhitungan usaha, usaha didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh dikalikan
besar gaya yang sejajar dengan arah perpindahan. Secara matematis usaha
didefinisikan sebagai W = F.s, di sini kita melihat salah satu aplikasi
perkalian titik pada bidang fisika.
Secara matematis, perkalian titik
dirumuskan dalam bentuk R = A.B dan R = AB cos(t), dengan t adalah besar
sudut apit terkecil di antara kedua vektor. Konsep penting dalam perkalian
titik adalah sifat perkalian titik antar vektor satuan. Pada perkalian titik
perkalian antara dua buah vektor satuan yang sama memberikan nilai 1 dan
perkalian antara dua buah vektor satuan yang berbeda menghasilkan nilai 0,
misalnya i.i = j.j = k.k = 1 dan i.j = j.k =
k.i = 0. Sehingga melalui operasi aljabar kita dapatkan nilai A.B
= (Ax.Bx)+(Ay.By)+(Az.Bz). Selain itu, pada perkalian titik berlaku A.B =
B.A. Melalui konsep tersebut, kita dapat mengaplikasikan operasi perkalian
matriks pada operasi perkalian titik dua buah vektor. Perhatikan bahwa syarat
dua buah matriks dapat dikalikan adalah ketika jumlah kolom matriks pertama
sama dengan jumlah baris pada matriks kedua.
Misalkan kita akan mengalikan vektor
A.B menghasilkan nilai skalar R, maka kita harus men-transpose
matriks vektor B yang memiliki ukuran 1×3 sehingga menjadi matriks berukuran
3×1. Ingat bahwa pada perkalian titik kita melakukan transpos pada matriks
tertentu sehingga menghasilkan hasil perkalian berupa matriks berukuran 1×1.
Kita kalikan
vektor A dan B-transpos untuk mendapatkan nilai R.
Kita dapat
melihat bahwa dengan menggunakan perkalian matriks yang menghasilkan matriks
berukuran 1×1, kita bisa mendapatkan hasil perkalian titik antara dua vektor.
Melalui perkalian matriks kita dapat menghindari perkalian antara dua vektor
satuan yang berbeda yang menghasilkan nilai 0 (ingat bahwa meskipun kita tidak
menuliskan vektor satuan i, j, k tetapi posisi kolom atau
baris yang ditempati menunjukkan vektor satuan yang dimiliki nilai yang
bersangkutan, sehingga sifat – sifat vektor satuan juga tetap dimiliki oleh
nilai tersebut). Kita juga dapat melihat bahwa perkalian tersebut bersesuaian
dengan persamaan perkalian titik A.B = (Ax.Bx)+(Ay.By)+(Az.Bz).
Kita kalikan
vektor A dan B-transpos untuk mendapatkan nilai R.
Kita dapat
melihat bahwa dengan menggunakan perkalian matriks yang menghasilkan matriks
berukuran 1×1, kita bisa mendapatkan hasil perkalian titik antara dua vektor.
Melalui perkalian matriks kita dapat menghindari perkalian antara dua vektor
satuan yang berbeda yang menghasilkan nilai 0 (ingat bahwa meskipun kita tidak
menuliskan vektor satuan i, j, k tetapi posisi kolom atau
baris yang ditempati menunjukkan vektor satuan yang dimiliki nilai yang
bersangkutan, sehingga sifat – sifat vektor satuan juga tetap dimiliki oleh
nilai tersebut). Kita juga dapat melihat bahwa perkalian tersebut bersesuaian
dengan persamaan perkalian titik A.B = (Ax.Bx)+(Ay.By)+(Az.Bz).
Perkalian silang (cross product)
adalah perkalian antara dua buah vektor yang menghasilkan vektor lain yang
arahnya tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh kedua vektor yang
dikalikan. Aplikasi perkalian silang contohnya pada perhitungan torsi atau
torka oleh suatu gaya. Torsi atau torka didefinisikan sebagai hasil perkalian
silang antara suatu gaya dengan panjang lengan yang tegak lurus terhadap arah gaya
yang bekerja. Secara matematis torsi didefinisikan sebagai torsi = Fxd,
di sini kita melihat salah satu aplikasi perkalian silang pada bidang fisika.
Secara matematis, perkalian silang
dirumuskan dalam bentuk R = AxB dan R = AB sin(t), dengan
t adalah besar sudut apit terkecil di antara kedua vektor. Konsep penting dalam
perkalian silang adalah sifat perkalian titik antar vektor satuan. Pada
perkalian titik perkalian antara dua buah vektor satuan yang sama memberikan
nilai 0, misalnya ixi = jxj = kxk = 0.
Sedangkan untuk vektor satuan lainnya berlaku sifat ixj =k,
jxk = i, kxi = j, dan jxi = -k,
ixk = -j, kxj = -i. Sehingga melalui
operasi aljabar kita bisa mendapatkan nilai AxB = (Ay.Bz – Az.By)i
+ (Az.Bx – Ax.Bz)j + (Ax.By – Ay.Bx)k. Selain itu, perkalian
silang memiliki sifat AxB = -BxA. Untuk
menyelesaikan perkalian silang dua buah vektor kita dapat menggunakan konsep
determinan matriks 3×3. Salah satu cara untuk mencari determinan matriks 3×3
adalah dengan metode Sarrus, untuk memahami metode ini silahkan membaca
referensi – referensi lain tentang metode Sarrus.
Untuk menghitung nilai perkalian
silang AxB = R, kita dapat menggunakan konsep determinan
matriks 3×3 dengan cara menyusun matriks vektor A dan B menjadi
matriks berukuran 3×3 dengan menambahkan matriks vektor satuan [i j k]
pada baris pertama, kemudian menempatkan matriks vektor A pada baris
kedua dan matriks vektor B pada baris ketiga. Kita dapat memperoleh
nilai R dengan cara mencari determinan dari matriks 3×3 tersebut.
Melalui
penggunaan konsep determinan kita dapa melihat kesesuaian antara bentuk aljabar
determinan matriks 3×3 dengan rumus yang kita miliki untuk mencari nilai hasil perkalian
silang vektor AxB = (Ay.Bz – Az.By)i + (Az.Bx – Ax.Bz)j
+ (Ax.By – Ay.Bx)k.
Melalui
penggunaan konsep determinan kita dapa melihat kesesuaian antara bentuk aljabar
determinan matriks 3×3 dengan rumus yang kita miliki untuk mencari nilai hasil perkalian
silang vektor AxB = (Ay.Bz – Az.By)i + (Az.Bx – Ax.Bz)j
+ (Ax.By – Ay.Bx)k.
Uraian di atas adalah metode
analisis vektor dengan menggunakan pendekatan matriks. Kita bisa memandang
sebuah vektor sebagai suatu bentuk matriks dan menggunakan operasi matematika
yang berlaku pada matriks untuk mencari nilai dari hasil operasi matematika
dasar pada vektor yang bersangkutan. Melalui pendekatan ini kita dapat
menyederhanakan analisis vektor sehingga terhindar dari keharusan untuk menulis
rumus yang cukup panjang. Selain itu, sifat – sifat vektor satuan dapat
diterapkan pada pendekatan matriks. Akan tetapi, pendekatan matriks menuntut
ketelitian yang cukup tinggi karena operasi pada matriks melibatkan nilai –
nilai yang memiliki koordinat posisi yang berbeda – beda dan letak nilai
tersebut sangat mempengaruhi hasil operasi matriks.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Matriks
adalah kumpulan bilangan-bilangan yang disusun secara khusus dalam bentuk baris
dan kolom sehingga membentuk persegi panjang dan bujur sangkar dimana panjang
dan lebarnya ditunjukkan oleh kolom dan baris yang ditulis diantara dua tanda
kurung, yaitu ( ) dan [ ].
Pada
dasarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan persoalan
yang apabila kita telusuri ternyata merupakan masalah matematika. Dengan kata
lain kita selalu bersentuhan dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan
matematika entah itu kita sadari ataupun tidak. Agar mudah difahami maka
persoalan tersebut diubah kedalam bahasa atau persamaan matematika supaya persoalan
tersebut lebih mudah diselesaikan. Diatas juga telah dijeleskan macam-macam
matriks, aljabar matriks, nilai eigen dan vektor eigen serta penerapan matriks
dalam ilmu fisika. Tetapi terkadang suatu persoalan sering kali memuat lebih
dari dua persamaan dan beberapa variabel, sehingga kita mengalami kesulitan
untuk mencari hubungan antara variabel-variabelnya.
B. Saran
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang
paling tidak disukai oleh anak-anak. Kenyataan di lapangan membuktikan
cukupbanyak siswa yang tidak suka bahkan membenci mata pelajaran matematika.
Dalam benak mereka matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit untuk
dimengerti bahkan membosankan.
Hal ini menjadi dilema bagi para pendidik dan
para ahli, karena matematika merupakansalah satu pengetahuan untuk sains dan
teknologi yang sangat perlu bagi kelanjutan pembangunan. Apalagi dalam memasuki
abad ke -21 yangditandai dengan kemajuan dalam perkembangan IPTEK, pengetahuan
siapdan kepiawaian berpikir logis yang dikembangakan dalam pelajaranmatematika
sangat diperlukan.
Dalam
menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan IPTEK yang sangat
pesat, maka peningkatan kualitas-kualitas sumber daya manusia mempunyai posisi
yang strategis bagi keberhsilan dan kelanjutan pembangunan nasional. Oleh sebab
itu, upaya tersebut mutlak harus mendapat perhatian yangsungguh-sungguh dan
harus dirancang secara sistematis dan seksama berdasarkan pemikiran yang
matang. Wadah yang tepat bagi upaya peningkatan kualitas sumberdaya manussia
adalah pendidikan.
Ada beberapa
indikator dalam peningkatan mutu
pendidikan antara lain melalui peningkatan kinerja guru dan peningkatan
mutupelajaran yang melibatkan MBS, Pakem, serta peran serta masyarakat
(PSM).Dalam kaitannya dengan Pakem, guru dituntut untuk menciptakan situasi
pembelajaran yang kondusif, yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif,
danmenyenangkan. Situasi pakem tersebut harus diupayakan untuk semua mata
pelajaran.
Dengan
begitu, diharapkan peningkatan mutu pendidikn pendidikan dapat tercapaisecara
optimal. Guru sebagai faktor penentu dan paling berpengaruh dalam hal
menanamkan konsep terhadap siswa. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran,
kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran serta
kemampuan guru dalam menetapkan media pembelajaran sangat menentukan terhadap
keberhasilan proses pembelajaran, di samping adanya potensi dan kemauan siswa
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ruminta.2009.Matriks Persamaan Linier dan Pemograman
Linier.
Bandung:Rekayasa Sains.
Diakses
pada tanggal: 30-11-2013 pukul: 13:45
diakses pada
tanggal 01-12-2013 pukul 14:07
diakses pada
tanggal 01-12-2013 pukul 14:07
http://achidayat.lecture.ub.ac.id/2012/12/nilai-eigen-teori-dan-interpretasinya-dalam-analisa-forex/
diakses pada
tanggal 04 12 2013 pukul 22:04
